pertama, harapan saya bberapa tulisan tentang pola pikir yang saya tuliskan disini tidak dicomot secara asal oleh pihak2 yang membutuhkan informasi dari pola pikir yang tercipta ini.
karena saya sadari perkembangan teknologi informasi sekarang sudah sangat jauh dari yang saya pahami dan dapatkan dari banyak sumber di sekeliling saya.
pertama...
bberapa saat lalu saya menonton film berjudul "Jamila dan sang Presiden"
film karya Ratna Sarumpaet tersebut mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang wanita yang terjebak oleh takdir dan dihukum mati karena telah membunuh seorang menteri. hal itu dilakukan karena dia merasa terancam dan merasa dilanggar hak hak nya.
yang saya petik hikmah dari film tersebut, ya... dalam film itu dikisahkan jamilah seorang wanita yang dari lahir sudah mendapatkan tempat yang tidak layak untuk melakukan kebaikan, apalagi untuk berbakti pada Penciptanya. dia hidup di lingkungan orang miskin dan terseret menjadi seorang pelacur sejak usianya masi dini. semua itu dia lakukan bukan karena keinginan atau kesadarannya, tapi karena dia hanyalah makhluk lemah yang sudah dicurangi haknya dan tidak mempunyai kuasa untuk melawan. nalurinya menolak untuk menjejaki jalan hidup semacam itu..dari hal kecil dia berusaha agar adik kandungnya tidak mengalami nasib yang serupa dengan dia. ditengah kegelapan pun dia masi memegang teguh agamanya, walau cacian dan tekanan secara mental selalu menghujaninya..sampai akhirnya dia membunuh seorang menteri yang dia cintai karena menteri tersebut telah menikahi wanita lain dan menodongkan pistol pada jamila setelah jamila mempermalukan meteri tersebut di acara pelelangan lukisan.
kisah pahit kehidupan ini berujung penyerahan diri jamilah kpd pihak berwenang. dan dia siap memikul semua beban hukuman yang akan dilimpahkan kepada dirinya. bahkan hukuman mati.
dalam sepanjang kisah suram perjalanan hidup anak manusia yang terseret pada hal yang tidak diinginkannya ini sarat akan kritik dan realita kehidupan yang digambarkan secara gamblang.
siapa penjilat yang selalu bersandiwara demi keamanan posisinya dan pemenuhan kebutuhan pribadinya,
siapa yang tersadar dan tak bisa bertindak apa apa karena konsekwensi yang terlalu berat yang akan ditempuh jika kebenaran yang dia bela.
siapa si muka 2 yang mengatas namakan agama demi jabatan dan harga pandang orang lain terhadap dirinya..
siapa yang berjuang keras tapi tak berdaya karena tak mengerti apa yang sebenarnya diperjuangkan dari pengorbanan sebuah nyawa.
dan siapa yang berusaha keras membela kebenaran sampai nyawa adalah taruhannya...
ya, sangat ironis...
tapi, memang tiada lagi tempat di dunia fana ini bagi mereka yang berjuang di jalan kebenaran.
"...semua yang baik akan diselamatkan, dan yang kafir dibiarkan hidup untuk merasakan siksaan sebelum kiamat tiba..." cuplikan ayat dalam Al-Qur'an yang tertancap di otak saya, yang sering saya dengar saat khutbah sholat Jum'at.
mungkin masa penyaringan memang sudah dimulai.... akankah kita menjadi yang terakhir untuk diselamatkan?? atau kitalah yang akan merasakan siksaan pada saat hari akhir tiba??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar